Selasa, April 14, 2009

Orangnya sabar-sabar.

Akhir pekan yang lalu berencana berlibur panjang di Jakarta saja. Namun, semua sudah ada yang mengatur, aku akhirnya pulang juga ke Jogja. Untuk sesuatu yang mendadak, Kamis malam, 9 April 2009, Pakdheku meninggal dunia. Sebagai kakak kandung dari bapakku, Pakdhe cukup dekat dan lumayan kukenal. Akhirnya, semua saudara yang ada di Jakarta berkoordinasi secara singkat dan seksama untuk segera ke Jogja.


Sebagai angkutan yang paling memungkinkan mengantar kita ke Jogja dengan cepat, pesawat menjadi pilihan utama. Dug.. dug... dug.... Entah kenapa, hati ini langsung waswas. Semua pikiran buruk langsung menggelayuti pikiran. Hmmm... berdoa saja.


Sumber foto: ini

Jumat, 10 April 2009, 04.30 subuh, sudah ngetem di tiket bandara, berharap masih ada tiket untuk 5 orang (aku, kakakku, sepupu, Budhe + suami). Go show! Alhamdulillah, setelah ngider ke tiketing tiga maskapai yang jaraknya uhui dengan tanpa hasil, akhirnya tiket bisa didapatkan di maskapai berlambang singo. Walau untuk jadwal terbang 10.20 wib, kita masih bersyukur dan berharap tidak ada delay untuk mengejar prosesi pemakaman setelah Jumatan, di hari yang sama.

Setelah bersiap diri dan membawa keperluan seadanya, kita berlima siap di bandara sejak pukul 09.00 wib. Setelah urusan bayar pajak dan check in kelar, kita menuju gerbang ke pesawat. Berharap tidak ada delay, walau Budhe, putri dari pakde yang meninggal, sudah bisa lebih tenang, tidak menangis lagi.

Setelah obrol sana obrol sini, jam sudah menunjukkan 10.15, dan tanpa ada tanda-tanda penumpang dipersilakan untuk menuju pesawat. Tunggu, tunggu, dan menunggu lagi. Mengobrol lagi. Delay lagi.

Bahkan, Budhe sempat berseloroh bahwa kemungkinan kita akan dipindah ke gerbang yang lain untuk menuju ke pesawat. Akh, nggak mungkin, pikirku. Emang metromini bisa dioper-oper. :-)

Akhirnya, pukul 11.00 wib ada pengumuman bahwa peswat sudah siap lengkap dengan pengumuman bahwa pesawat telat karena harus mencari posisi parkirnya. Tanpa pikir panjang, kita dan penumpang lain yang juga sudah tidak sabar menuju pintu pesawat. Namun, ada pengumuman berikutnya, bahwa kita harus pindah ke gerbang lain, karena pesawat tidak bisa berada di gerbang tempat kita menunggu. Huh? Beneran nih????? Wohohoho.... Budheku pun cuma berujar, "Bener tho, Le." Cleguk.

Aku berharap saat itu para penumpang menggerutu, marah-marah, banting-banting kursi, atau ngotot untuk minta pesawatnya yang pindah, bukan penumpangnya. Kenyataan lain, semua dalam diam sambil menuju gerbang yang dirujukkan. Hebat orang-orang ini, batinku. Ada apa? Ada apa? Apakah karena memang sudah berada dalam posisi yang tidak berdaya? Lebih baik telat tidak masalah asal selamat, seperti batinku. Hehehehe....

Ya, tidak terdengar sedikit pun selentingan kecewa ketika di dalam pesawat mengenai keterlambatan dan 'pengusiran' tadi. Sesabar itu kah mereka? Atau mereka sibuk dengan pikiran masing-masing? Sibuk berdoa? Atau sebegitu pasrahnya sampai diapa-apain juga ikut aja. Tidak seperti ketika akan naik moda angkutan bis, kereta api, atau travel. Seperti diriku. :p

Memang, segala hal yang menyesakkan itu 'begitu amat sangat terbayar sekali' dengan apa yang namanya: lega. Bisa mendarat di Jogja dengan selamat tanpa insiden apa pun. Masalah delay dan pindah gerbang pun hanya menjadi bumbu guyonan saja ketika masuk ke obrolan. Masalah 'kecil'. Masalah tentang pelayanan konsumen sebuah jasa berbayar.

0 comments: