Rabu, Desember 28, 2016

Magang

Salah satu penjual makanan yang selalu melakukan regenerasi adalah penjual bakmi, yaitu regenerasi pembuat bakminya.

Sang pembuat bakmi utama biasanya didampingi oleh asistennya, yang bertugas ngepeti/ngipasin anglo, membungkus hasil masakan, dan juga menambahkan arang ke anglo. Karena perjalanan waktu sering melihat dan sesekali membantu tugas pembuat bakmi utama, sang asisten pun bisa memiliki skill yang sama. Baik dari cara memberi bumbu, mengolah bakmi, maupun cara icip2 yang khas itu. Proses belajar sambil bekerja ini biasa disebut dengan istilah magang, nyantrik atau ngenek.



Biasanya, sang pembuat bakmi utama akan resign dari tempat tersebut, lalu pindah ke tempat lain atau membuka warung sendiri. Bisa juga menjadi pembuat bakmi di cabang warung tersebut, karena dianggap sudah mampu menjaga kualitas rasanya. Nah, dalam situasi seperti ini, sang asisten bisa naik pangkat menjadi pembuat utama bakmi. Tentunya setelah dianggap mampu mengolah rasa sekelas pembuat bakmi sebelumnya, demi alasan yang utama: kepuasan pelanggan.

Namun, ada juga yang resign justru asisten tersebut, setelah merasa mampu menyerap ilmu yang telah dipelajari selama di 'perguruan' warung bakmi. Dia juga kemudian bisa membuat warung sendiri, atau diserahi tanggung jawab untuk memasak di warung cabang lainnya. Begitu seterusnya. 

Sebuah warung bakmi tetap menjadi idola, ketika sudah berganti yang membuatnya, tetapi rasa tetap bisa terjaga.

0 comments: