Tampilkan postingan dengan label Campursari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Campursari. Tampilkan semua postingan

Senin, November 21, 2016

Lubang Biopori

Tahun 2016 ini sepertinya memang tahun hujan, ya. Hujan bagai tak berhenti, seperti enggan bergantian dengan musim kemarau. Enam bulan hujan, enam bulan kemarau. Sampai bulan November ini hujan masih rutin. Akibatnya, di beberapa daerah mengalami surplus air, meluap sampai ke jalanan kota. Jakarta, Depok, Bandung, Karawang, Jogja, dan juga Bekasi mengalami banjir akibat musim hujan yang berkepanjangan ini. Ada yang langsung surut kembali, ada yang berhari-hari tetap menggenang.

Ternyata, sungai yang sudah bersih, rajin dikeruk, bebas dari sampah, belum efektif 100% untuk mencegah banjir. Karena bagaimana pun kapasitas sungai terbatas untuk menampung semua aliran air yang menuju sungai dan selokan, bahkan yang masuk ke waduk pun tidak mampu menampungnya. Akhirnya, pintu waduk pun harus dibuka dan membuat beban sungai menjadi makin besar. Seperti yang terjadi di waduk Saguling, yang mengalirkan airnya ke sungai Citarum.

Lalu, apa usaha yang efektif untuk 'membantu' sungai? Agar air tidak langsung atau semuanya ke sungai, kita harus 'menahan' air selama dan sebaik mungkin di dalam tanah. Kita arahkan agar air hujan yang selama ini langsung menuju selokan dan bermuara di sungai, berada di dalam tanah terlebih dahulu.

Salah satunya dengan membuat lubang biopori. Ya, lubang serapan air yang kita buat untuk mengarahkan air masuk ke tanah, daripada mengalir ke arah selokan atau sungai begitu saja. Karena, selain membantu mengurangi beban sungai, manfaat air yang masuk ke tanah bisa sebagai cadangan air bersih sumur kita, menjaga kualitas tanah, dan juga sumber air bagi tanaman yang berada di atasnya.




Bagaimana cara membuat lubang biopori? Caranya mudah, cukup menggunakan alat bor seperti foto di bawah ini. Lalu, cari lokasi di sekitar rumah atau halaman yang selama ini menjadi jalur air atau tempat air menggenang. Pada foto konblok di atas, sebelumnya sering menjadi genangan air, lalu kita jadikan lubang biopori, dan genangan pun hilang karena air langsung masuk ke tanah. Sekitar 1,5 meter dari lubang biopori tersebut, terdapat sumur pompa, sehingga lubang bioporinya bisa dimaksimalkan untuk 'menyimpan' air hujan sebagai cadangan air tanah.



Sekarang tahapan cara membuat lubang resapan biopori:
1. Kita basahi terlebih dahulu tanah yang akan kita buat biopori, agar lebih lunak. Kita putar bornya perlahan sambil ditekan ke bawah.
2. Setelah kita mencapai kedalaman sekitar 20 cm, kita tarik ke atas tanah beserta bornya tetap dengan cara diputar, begitu seterusnya.
3. Setelah kita membuat lubang dengan diameter 10 cm dan dalam 1 meter, kita pasang pipa pralon ukuran 4 inci sebagai casing kubang biopori bagian atas, agar tanah tidak runtuh dan menutupi lubang yang sudah kita buat. Potong pipa pralon sepanjang 10 atau 15 cm.
4. Agar lebih kuat, di sekeliling pipa pralon dengan lebar sekitar 2 cm kita semen.
5. Kemudian kita tutup dengan penutup biopori, yang bisa kita peroleh dengan membeli atau dengan melubangi penutup pipa pralon ukuran 4 inci.



Agar lubang biopori awet, isi lubang dengan sampah organik seperti daun, rumput, kulit buah-buahan, dan sampah yang berasal dari tanaman lainnya. Isi ulang sampah organiknya tiap 3 bulan sekali atau tiap akhir musim kemarau. Sampah organik di dalam lubang biopori ini nantinya bisa dipakai untuk pupuk kompos.

Nah, sekarang ketika hujan lebat mengguyur, air tidak langsung terbuang ke selokan atau sungai, tetapi bisa kita 'simpan' dahulu di dalam tanah. Dengan usaha kecil ini, paling tidak kita bisa mengurangi sedikit beban sungai, apabila ada 1000 saja lubang biopori dalam satu kecamatan, maka beban sungai pun semakin ringan. Banjir atau genangan di tengah kota bisa kita dihindari, atau minimal mempercepat air surut.

:)


Info: Untuk pembelian alat bor dan tutup biopori, bisa langsung ke: http://www.biopori.com/sekretariat.php

Minggu, Maret 18, 2012

Sekolah Jalanan

Menulis lagi, akhirnya.... hehehe... Ya, setelah sekian lama, kangen juga membuat tulisan di lapak yang memiliki nilai historis tak ternilai ini (ehm!). Temanyaaa... yang ringan-ringan saja, di sekitar kita. ;)

Source: http://cobaberbagi.wordpress.com/2010/08/31/lampu-merah-datangkan-rejeki/

Kita tentu tau, semua hal yang ada di sekitar kita bisa dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Tentang apapun, bahkan. Bisa berawal dari hal yang sepele, misalnya saat berhenti di lampu merah. Di saat kita berhenti untuk menunggu lampu menyala hijau, saat ini di tiap lampu hampir semuanya menyediakan count down timer, memberikan kesempatan kepada kita untuk mengamati. Mulai dari kendaraan yang lewat, orang berjalan kaki, pedagang asongan, sampai ke pengamen ala kadarnya itu. Mereka semua asyik dengan dunianya masing-masing. Dan akhirnya cerita itu berhenti begitu saja ketika lampu hijau menyala, kita harus konsentrasi lagi berkendara.

Oiya, belum lama ini kita dihebohkan oleh kemunculan mobil bikinan anak SMK dengan merk Esemka Rajawali (awalnya bernama Kiat Esemka, entah kenapa berubah begitu saja menjadi Esemka Rajawali) yang akan mengikuti uji emisi di BPPT Serpong Jakarta. Kita semua tahu bahwa akhirnya mobil Esemka tidak lolos audisi..eh, uji emisi, dan harus balik lagi ke Solo untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Nah, sejak saat itu, entah kenapa jadi perhatian sekali dengan apa itu uji emisi dan sekitarnya, terutama kondisi kendaraan umum yang lebih banyak gak layak jalan daripada yang mulus-mulus. Bikin deg-degan lah gampangnya kalo kita naik kendaraan umum, terutama bus kota.

Mulai dari knalpot yang menyemburkan asap hitam bak gurita, penggunaan ban vulkanisir, sampai lampu-lampu kendaraan yang fungsinya senin-kamis saja. Dan hal-hal tersebut telah berlangsung bertahun-tahun.

Asap gurita sang moda.

Ban vulkanisir, sapa takut? <<- PD? :p

Semua itu terlihat biasa-biasa saja, sampai terjadi sesuatu dan saling menyalahkan ujungnya. Yaaa... karena hal tersebut udah biasa tadi, segalanya dianggap normal saja. Kita biasanya disuruh banyak doa. Mengerikan sesungguhnya. :) Kalau kita sempet berpikir, hal-hal tersebut siapa sih yang seharusnya memikirkan? Atau berjalan apa adanya saja dengan segala risiko di depan mata? Entahlah, kita sepertinya disuruh untuk mikir hal lain yang ringan dan menyenangkan. Karena toh juga bukan urusan kita. Lho, lha tapi kan itu kendaraan umum? Heheheehe...

Bisa neh ngantor di jalanan ;)

Namun, di antara semua hal yang menyesakkan tadi, ada saja hal yang menyegarkan. Seperti halnya foto di atas. Sambil naik bus itu, kita seperti dimanjakan oleh fasilitas yang ada. Bisa dipastikan perjalanan jadi terasa lebih singkat dan menyenangkan, kalo koneksinya lancar... hihihihihi...

Begitulah, kita akhirnya ditempatkan pada pihak yang mengamati dan mengambil hal yang baik-baik, berpikir sendiri, mengambil kesimpulan dan keputusan sendiri, karena percuma, semua hal yang kita sampaikan ke pihak berwenang lebih banyak yang menguap entah kemana. Anggap saja bagian dari pembelajaran hidup ini, sekolah kehidupan. Ambil baiknya, buang buruknya, walopun tetep ada saja... hehehee... Pengin tau sekolah kehidupan selain di jalan raya? Naiklah KRL, trutama yang kelas ekonomi, bakal banyak hal yang bisa menambah nilai hidup kita dari situ(ehm!). ;)

Salam.

Minggu, April 18, 2010

Tren

Trend atau tren di dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya adalah gaya mutakhir. Lebih jauh lagi kira-kira hal atau sesuatu yang sedang banyak dipakai atau dijadikan tolok ukur bagi sebagian besar orang.

Senin, Desember 14, 2009

Hotel

Dulu, ketika masih kecil, begitu mendengar kata 'hotel' langsung terbayang sebuah bangunan untuk tidur dengan fasilitas yang lebih 'wah' daripada sebuah rumah tinggal biasa.

Selasa, April 14, 2009

Orangnya sabar-sabar.

Akhir pekan yang lalu berencana berlibur panjang di Jakarta saja. Namun, semua sudah ada yang mengatur, aku akhirnya pulang juga ke Jogja. Untuk sesuatu yang mendadak, Kamis malam, 9 April 2009, Pakdheku meninggal dunia. Sebagai kakak kandung dari bapakku, Pakdhe cukup dekat dan lumayan kukenal. Akhirnya, semua saudara yang ada di Jakarta berkoordinasi secara singkat dan seksama untuk segera ke Jogja.

Jumat, Februari 15, 2008

Teka-teki

Dua hari yang lalu sewaktu menonton sebuah program news di tivi, ada hal yang membuat penasaran sekaligus heran.

Rabu, November 28, 2007

Awesome!

Entah kenapa, mengamati sebuah bangunan (seni arsitektur) dengan segala bentuk dan lekuknya menjadi kenikmatan tersendiri.

Rabu, November 07, 2007

Pencerahan

Entah karena kangen dengan Kota Jogja, atau memang merindukan sesuatu yang menyejukkan, tayangan ini memang bisa menjadi sebuah penyegaran tersendiri.

Senin, Agustus 13, 2007

Pelajaran

Segala sesuatu, jika ada back up atau cadangannya memang selalu ada gunanya. Maksudnya ini lebih ke benda, lho, bukan manusia... hehehe...

Rabu, April 04, 2007

Garis-garis yang Bicara

Dulu, ketika kuliah, ada mata kuliah Semiotika. Singkatnya (dan semoga masih benar…hehehe) Semiotika mempunyai definisi, pemaknaan akan tanda-tanda dari sebuah pesan yang tersampaikan. Dalam hal ini pesan dari sebuah media.

Senin, Februari 19, 2007

Tornado van Jogja

Kemarin malam (18/02/07), aku mendapat SMS dari kakakku yang di Jogja, kalau di Jogja baru saja dilanda semacam angin "tornado" atau di sini biasa disebut dengan angin puting beliung.


Sabtu, Desember 30, 2006

Dari 06 ke 07

Tahun 2006 sebentar lagi berlalu, bersambut ke tahun 2007. Seperti yang sudah-sudah, setahun waktu berjalan tidak terasa. Terasa sih, kalau pas tiap akhir bulan gajian. :-p

Rabu, Desember 06, 2006

Desember Ceria (Antara DPR, Poligami, dan Smack Down)

Dulu, ketika jaman kuliah, setiap memasuki bulan Desember, suasana kampus selalu semarak. Bukan hanya karena kehadiran adik-adik angkatan baru, yang katanya bisa memberikan semacam semangat baru, namun lebih kepada kegiatan yang seabrek pada bulan itu. Plus hujan yang lebih sering turun tentu saja. Maklum, kampus kami kan banyak pohon, rimbun, jadi tambah sejuk gitu lah…. :D

Sabtu, November 04, 2006