Jumat, Juli 21, 2006

Mantan

Kata mantan pertama kali atau mulai sering terdengar sekitar masa-masa sekolah dasar dulu. Kata itu sering diucapkan oleh para penyiar TVRI, stasiun tv plat merah ketika masih dalam masa kesendiriannya dulu. :)

Kalau tidak salah digencarkan penggunaannya oleh Bung Harmoko ketika masih menjabat sebagai menteri penerangan. Salah satu alasannya adalah kata mantan lebih pantas digunakan daripada kata bekas. Terutama ketika menempel sebelum kata orang. Mantan pejabat dianggap kata yang lebih tepat dibandingkan dengan bekas pejabat (Untuk yang satu ini, bisa bener juga, yah, si Bung :p).

Mulai saat itulah penggunaan kata mantan menjadi semacam perbendaharaan baru bagi dunia perbahasaan di negeri kita.

Kalau dari segi definisi atau arti kata mantan itu sendiri adalah: seseorang yang telah selesai atau pernah menjabat atau menyandang suatu gelar atau jabatan di masa lalu.

Walaupun penggunaan kata mantan tidak selamanya tepat digunakan untuk semua jabatan yang pernah disandang oleh seseorang. Misalnya untuk seorang guru. Menurutku seorang guru tidak pernah bisa disandingkan dengan kata mantan. Dari zaman sejak masih ingusan sampai diajar oleh bapak dan ibu dosen, mereka semua tetap seorang guru. Rasanya, kok, tidak sampai hati, yah, untuk menempelkan kata mantan untuk guru-guru kita, kurang nyaman juga didengar.

Photobucket - Video and Image Hosting

Nah, lain lagi jika mantan digunakan untuk paduan sebuah kata: mantan kekasih. Kalau yang ini kayaknya justru sangat perlu digunakan ataupun diterapkan. Akan menjadi masalah yang fatal jika kita tetap mengaku atau mengakui kekasih kepada seseorang tentang seseorang yang pernah “jalan bareng” bersama kita.

Uniknya, kata mantan kekasih bisa berkonotasi macam-macam. Mantan kekasih yang sekarang sudah sah menjadi istri/suaminya atau mantan kekasih yang benar-benar sudah terpisahkan. :D

Soal mantan-mantanan ini mulai mencuat lagi ketika band Sheila on 7 menelorkan lagu dengan judul yang agak unik dan terkesan formal: Mantan Kekasih. :)

Sebenarnya cenderung biasa saja musikalisasi lagu itu. Namun, ya, lagi-lagi karena dari judulnya sudah tampil beda, lagu itu jadi sering didengarkan. Atau karena lagu bertema cinta-cintaan selalu “bisa” diterima di telinga, yah? Hehehehe… Begitulah.

Mantan Kekasih
by: 5O7

mantan kekasih yang hilang datang
ungkapkan besarnya penyesalan
bagaimana dia menghancurkan aku
percayalah kau tak aku sesali

awan hitam menghantui langkahmu
bagaimana mungkin jika itu pilihanmu
di sini tak lagi jadi rumahmu

relakanlah semua
berakhirlah sudah
dan biarkan bintang
menuntunmu pulang

haa.. haaa..

kau tak slalu bisa punya yang kau inginkan
kau tak slalu bisa punya yang kau impikan

**

Senin, Juli 03, 2006

Semacam karakter

Ijinkan Aku Menyayangimu

(Iwan Fals)

Andai kau ijinkan walau sekejap memandang
Ku buktikan kepadamu aku memiliki rasa
Cinta yang ku pendam tak sempat aku nyatakan
Karena kau telah memilih menutup pintu hatimu
Ijinkan aku membuktikan inilah kesungguhan rasa
Ijinkan aku meyayangimu

REFF
Sayangku Ooo...
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku Ooo...
Dengarkanlah isi hatiku

Bila cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Ijinkan aku tetap meyayangimu
* Kembali ke REFF

Lagu di atas memang nyaman untuk didengarkan. Selain lirik yang bagus, cara menyanyikan Mas Iwan memang penuh penghayatan.

Namun ada komentar unik dari seorang kawan: Mas Iwan kehilangan karakternya ketika menyanyikan lagu tersebut. Lho, kok, bisa? Iya. Salah satunya dia harus menyanyikan sebaris lirik yang bertuliskan “Ooo…” itu. =)

Photobucket - Video and Image Hosting

Hal itu bukan Mas Iwan banget kata kawanku tadi. Mas Iwan sudah terlanjur lekat dengan lagu-lagu kritis bertema sosial. Kalaupun harus menyanyikan lagu cinta, tetap dinyanyikan dengan lirik yang romantis namun tegas. Jarang yang mendayu-dayu seperti lagu di atas.

Seperti biasanya, jika sesuatu itu menjadi kontroversi, justru semakin ingin diketahui. Ya, sudah. Esoknya aku langsung usaha sana-sini agar bisa mendengarkan lagu itu. :)

Satu hal lagi yang mengusik otakku adalah sebuah pertanyaan, apa yang disebut dengan karakter itu sendiri? Setelah menyentuh Mas Google, akhirnya aku menemukan beberapa definisi tentang karakter. Antara lain:
- a person of a specified kind (usually with many eccentricities); "a strange character"; "a friendly eccentric"; "the capable type"; "a mental case" (http://dict.die.net/character/)
- Public estimation of someone; reputation: personal attacks that damaged her character
- A notable or well-known person; a personage
- A person, especially one who is peculiar or eccentric: a shady character; catcalls from some character in the back row (http://www.answers.com/topic/character)

Mmm…benar juga. Karakter seseorang bisa dikatakan berubah atau ‘bukan dia yang sebenarnya’ jika dia melakukan sesuatu yang tidak biasanya. Apalagi jika dia seorang tokoh atau dengan melakukan tindakan yang sangat ekstrim.

Wah, berat juga yah bahasannya… :) Tapi sebagai sebuah informasi, ringan-ringan sajalah kita melihatnya.

Bisa juga buat kita untuk menjadi semacam pegangan buat kita sendiri agar kita bisa menjalani segala sesuatu dengan baik dan menyenangkan buat sekitar kita, tanpa meninggalkan apa yang ada dan ingin kita ekspresikan dari diri kita.

Sehingga tidak akan timbul pertanyaan di benak, ‘Kok tidak seperti aku yang sebenarnya, ya?’

Senin, Juni 19, 2006

Manusiawinya manusia

Orang, kalau sudah merasakan sesuatu yang lebih nyaman, untuk merasakan kembali sesuatu yang kurang nyaman, kok, merasa malas menjalani, yah? Gak usah ngomongin orang, diri sendiri aja lah! =)

Misal, dulu kalau ke mana-mana di Jakarta naik angkutan bis kota Metromini atau Kopaja, setelah ke mana-mana sekarang naik sepeda motor atau mobil ataupun taxi, keinginan untuk naik Metromini menjadi malas. Atau minimal terlalu banyak alasan untuk tidak ingin naik Metromini lagi.

Situasi penumpang yang penuh sesak, kondisi pengap bis kota, bahkan ancaman gerayangan para copet yang selalu menghantui benar-benar bisa menjadi sisi pembenar untuk tidak naik Metromini (lagi).

Mungkin itu bisa disebut manusiawi untuk merasa nyaman dengan apa yang sudah dirasakan saat ini, dan enggan untuk merasa kurang nyaman (kembali).

Entah sebuah keberuntungan atau sesuatu yang harus dialami ketika dulu pernah merasakan berbagai macam angkutan umum yang beroperasi di Jakarta ini.

Setiap moda angkutan memberikan sensasi yang luar biasa. Ya, penumpangnya, ya, situasi dan kondisi kendaraannya. Kalau istilah orang yang sedang jatuh cinta, berjuta rasanya, lah!

Setelah gresek-gresek di sana-sini, berbagai angkutan bisa kudapatkan gambarnya. Masing-masing moda angkutan ada kisah yang mengiringinya. Ada yang pernah kunaiki, ada juga yang sebatas dilihat. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

1. Angkot: Biasa digunakan ketika mengawali perjalanan menghabiskan hari-hari di Ciputat. Nomor lambung angkot DO-1 selalu memberikan sinonim yang mesra; Angkot Doi! Dulu pp jauh-dekat sekitar 1500. Setelah BBM naik, ongkos angkot pun ikut naik, menjadi sekitar 2000 pp.

Photobucket - Video and Image Hosting

2. Bajaj: Selalu memberikan solusi paling ideal untuk menembus keruwetan lalu lintas Jakarta tanpa takut kehujanan. Walaupun tidak memberikan jaminan tidak akan terkena cipratan air dari mobil yang melintas di samping bajaj.
Salah satu kenangan terindah adalah ketika bajaj masih diizinkan melintas di halaman Monas. Ketika itu malam tlah merayap melingkupi ibu kota, dari stasiun Gambir dengan bajaj menembus keangkuhan pijar puncak Monas menuju kawasan Thamrin, untuk berganti angkutan ke bus kota jurusan Blok M.

Photobucket - Video and Image Hosting

3. Becak: Belum pernah sama sekali selama di Jakarta naik becak. Beda dengan di Jogja, di Jakarta becak bukan angkutan umum favorit. Mulai dari bentuknya yang sangat ceper, dilihat saja sudah merasa capek. Langsung kasihan dengan si abang becak.

Photobucket - Video and Image Hosting

4. Bemo: Angkutan andalan ketika masih menghuni kawasan Bendungan Hilir (banyak juga yang tidak tahu, lho, kalo Bendungan Hilir itu biasa disingkat dengan Ben-Hil! :p).
Dengan muatan maksimal 7 orang penumpang (1 orang di depan dan 6 orang di belakang), suasana begitu “menegangkan”. Duduk berhimpitan dengan mbak atau eneng manis bikin tegang, begitupun bila duduk berhimpitan plus bersenggolan lutut dengan mas-mas sangar pasar Benhil. Tetap tegang!

Photobucket - Video and Image Hosting

5. Delman: jenis angkutan umum yang juga belum pernah dinaiki selama di Jakarta.

Photobucket - Video and Image Hosting

6. Kereta api (KRL): Salah satu jenis angkutan yang sangat berjasa dalam proses pengerjaan skripsi. Dari Stasiun Pasar Minggu ke Stasiun UI selalu setia menemani. Pernah merasa sia-sia membeli tiket karena tidak pernah ada pemeriksaan tiket. =)

Photobucket - Video and Image Hosting

7. Metromini: Wah, untuk yang satu ini penuh suka dan duka lah. Mulai dari harus berlari mengejar laju bis kota maupun harus adu nyali dengan pencoleng yang siap beraksi.
Bukan bermaksud SARA, namun penyebutan asal daerah dan teman-temannya sangat berpengaruh pada keselamatan jiwa dan barang kita. Hehehehe….
Jalur Blok M – Tanah Abang, Ragunan – Blok M, maupun Pasar Senen – Benhil, sangat berwarna dengan kehadiran de Oranje ini.

Photobucket - Video and Image Hosting

8. Ojek (motor): Pernah memberikan pengalaman yang menakutkan bagi seorang teman yang baru pertama kali naik ojek ini di Jakarta. Cara mengendarai motor dengan metoda gas pol, rem kalau ingat, memberikan getaran yang tak terlupakan. Dia hanya bisa bilang, “Semprul!”
Bisa diandalkan untuk semua orang dari berbagai kalangan bila menginginkan jarak Senayan – Gambir ingin ditempuh selama 10 menit.

Photobucket - Video and Image Hosting

9. Ojek (sepeda): Selalu memberikan pemandangan yang mengharukan bila melihat mereka ngetem menunggu para pengguna jasa mereka. Dengan tenaga yang mereka miliki, mereka bekerja keras menggenjot sepeda. Semakin banyak genjotan, semakin banyak lah rupiah masuk kantong mereka.
Salut juga kepada sebagian di antara mereka yang setia menjadi pengojek sepeda sekadar ingin melestarikan moda angkutan tersebut.
Mudah dijumpai di sekitar Stasiun Kota. Akan muncul pemandangan unik ketika pengguna jasa mereka yang masih menggunakan baju kerja lengkap dengan dasinya, membonceng geyal-geyol mengikuti gerak sepeda menyusuri jalan di kawasan kota tua itu.

Photobucket - Video and Image Hosting

10. River taxi: Sebutan yang keren, walau tak sekeren penampilannya. Terakhir melihat angkutan ini di sekitar wilayah Manggarai, beberapa tahun yang lampau. Saat ini mungkin mudah ditemui di kawasan Jakarta bagian utara.
Salah satu jenis angkutan yang belum pernah dinaiki juga.

Photobucket - Video and Image Hosting

Selamat ulang tahun yang ke-479 Jakarta!

Senin, Mei 29, 2006

Jogja, Sabtu, 27 Mei 2006

Photobucket - Video and Image Hosting

Yang selamat semoga diberi kekuatan lahir & batin serta ketabahan. Bagi yang meninggal dunia semoga diberi tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Amien.

Sabtu, Mei 20, 2006

Trilogi - 3 (Sosok yang Ngangeni...)

Saat ini, siapa yang tidak kenal dengan orang ini? Yah. Mbah Maridjan memang sedang menjadi pusat perhatian berkaitan dengan keadaan Gunung Merapi.

Sudah sejak 1983 Mbah Maridjan mendapat mandat dari Keraton Yogyakarta, dalam hal ini Sri Sultan HB IX, untuk menjadi Juru Kunci Merapi.

Tugas utamanya yang lain yaitu menjadi petugas saji labuhan di Merapi tiap 30 Rejeb (tahun 2006 jatuh pada tanggal 26 Agustus). Dimana rute labuhan itu sendiri dimulai dari rumah Mbah Maridjan, menuju Paseban Labuhan Dalem yang terletak di Pos II Gunung Merapi.

Mbah Maridjan memang istimewa. Selalu ngangeni sosoknya. Khas orang Jogja. Walaupun memiliki wewenang istimewa dari penguasa Keraton, namun tetap memiliki kepribadian yang rendah hati, ramah, dan santun.

Bahkan dengan tanggung jawabnya yang lumayan besar menjadi juru kunci, himbauan untuk turun gunung tidak dihiraukan. "Yang memerintahkan itu Gubernur, kalau Sri Sultan belum. Gubernur dan Sultan itu beda aturannya. Kalau dari keraton itu belum," begitu jawab Mbah Maridjan setiap polemik itu disinggung.

Yang lebih mengharukan, soal penolakannya untuk mengungsi, seperti diberitakan oleh banyak media, Mbah Maridjan mengatakan, "Di sini (Kinahrejo), saya bisa berdoa untuk keselamatan banyak orang. Tapi kalau saya ikut mengungsi, itu berarti saya mengejar kepentingan pribadi.

Sosok yang relijius ini juga sangat arif dan bijak dalam melihat fenomena alam di sekitar Merapi. Bebarapa diantaranya didapat dari sebuah "pesan". Diantaranya, manusia harus mengurangi tindakan yang merusak alam. "Mereka boleh mengambil pasir di sungai-sungai lereng Merapi, tapi jangan menggunakan mesin. Kalau menggunakan mesin, akibatnya merusak ekosistem, bisa menimbulkan banjir bandang, pohonan roboh," kata Mbah Maridjan.

Ngangeni.

#3