Kamis, November 17, 2016

Editor Buku

Apa sih yang dibayangkan orang ketika pertama kali mendengar istilah atau profesi editor buku? Orang yang pekerjaannya mengutak-atik tulisan? Orang yang pekerjaannya tekan-tekan tombol keyboard delete, copy, paste, backspace? Atau, orang yang pekerjaannya hanya menerima naskah, menyeleksi, lalu menerima atau menolak naskah? 

Ternyata, menjadi editor buku itu tidak seperti gambaran di atas, tetapi lebih. Karena menjadi editor buku tidak hanya dituntut bisa mengutak-atik atau mengedit tulisan, menyeleksi naskah, tetapi juga dituntut punya taste tentang desain dan packaging produk, bisa menjadi seorang negosiator, paham promosi dan pemasaran, tahu tentang distribusi toko, mengenal perhitungan produksi buku, akrab dengan kondisi toko buku, menjadi seorang humas atau PR bagi penulis sekaligus penerbit, teman diskusi penulis, kalau sedang talkshow harus siap jadi MC dadakan, bahkan kadang-kadang menjadi teman curhatnya.... hehehehe.... 

Apakah ketika buku sudah dicetak pekerjaan editor selesai? Tidak, justru pekerjaan berikutnya baru mulai. Karena ketika buku sudah mulai beredar, di situlah perjuangan yang sesungguhnya. Bagaimana caranya agar buku bisa sampai ke tangan pembaca dengan baik, dan kalau bisa selalu cetak ulang. Sebagai gambaran, rak buku itu jumlahnya terbatas, tetapi jumlah buku yang masuk ke toko buku tiap bulannya selalu bertambah. Konsekuensinya, apabila ada buku yang tidak baik penjualannya, retur adalah jawabannya. Sebuah kenyataan pahit yang harus bisa diterima.

Mungkin seperti orangtua kepada anaknya, atau guru kepada muridnya. Seorang orangtua atau guru merasa bahagia apabila anak atau muridnya berhasil meraih prestasi, bahkan bisa melebihi mereka. Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai. Demikian juga dengan editor buku, akan merasa bahagia ketika melihat halaman KDT buku seperti ini:


Ketika sebuah buku mengalami cetak ulang, hal pertama yang dilakukan tentu saya ucapan syukur. Ujian tahap pertama bisa dilewati. Apalagi ujian tersebut bisa sampai tahap keempatbelas. Tidak hanya penulis dan editor buku atau penerbit, tetapi juga kabar bahagia untuk tim pemasaran, promosi, toko buku, dan juga percetakan. Karena dengan adanya cetak ulang, mereka juga ikut menikmati hasilnya. Semangat kerja juga semakin meningkat. Banyak yang ikut bahagia. Di situlah salah satu kebahagiaan seorang editor buku.

Setelah itu, apakah editor buku bisa berleha-leha? Jelas tidak. Tuntutan untuk tetap kreatif menghasilkan sebuah buku yang bisa diterima pembaca tetap ada. Bahkan, kalau bisa melebih pencapaian yang sudah ada. Editor buku harus selalu mau belajar dan jeli mengamati situasi. Karena dari hal tersebut bisa didapatkan sebuah ide yang menarik. Tidak ada rumus bakunya, itulah tantangan seorang editor buku sesungguhnya. :)))

0 comments: